| lansia kadipiro | lansia |kadipiro

Rabu, 15 November 2017

PROGRAM WISATA 2017


Lagi-lagi berwisata, apa gak bosan? Tapi itulah program yang dicanangkan dua tahun sekali di Lansia Kadipiro. Program wisata bagi semacam ini pada dasarnya bertujuan memberikan kesempatan berekreasi dan refreshing kepada merekapara lansia ditengah kesibukan dan himpitan problema hidup sehari-hari. Disamping itu juga memberi kesempatan bagi mereka yang mungkin agak kurang beruntung tidak mampu menyelenggarakan acara wisata sendiri karena berbagai kendala. Program Wisata 2017 yang diselenggarakan tanggal 2 April 2017 ini adalah program keempat sejak dimulainya kegiatan Posyandu Lansia Kadipiro sejak 2007.
Dengan menggunakan bus wisata Remaja Trans, tujuan wisata yang dipilih tahun ini adalah kabupaten dengan seribu pantai, yaitu Kabupaten Gunung Kidul, dan pantai yang terpilih adalah Indrayanti, Kukup dan Baron.


Sulit rasanya untuk mencari bandingan keindahan pantai-pantai di Gunung Kidul ini, kecuali tentunya dengan pantai-pantai di luar negeri. Simak saja foto-foto yang diunggah bersama artikel ini, betapa indahnya pantai-pantai tersebut.

PANTAI INDRAYANTI

Sebenarnya pantai ini bernama asli Pantai Pulang Syawal, tetapi nama ini kurang keren dibanding dengan nama yang diberikan oleh para pengunjung. Awalnya saat pantai ini baru dibuka dan belum terkenal, ada  seorang pengusaha yang berani mengambil resiko dengan mendirikan sebuah rumah makan ditepi pantai yang diberi nama Indrayanti.

                                                       
Jadi nama inilah yang kemudian tertanam di benak para pengunjung ....Indrayanti.... menjadi nama pantai yang lebih keren dan populer dibanding nama aslinya Pulang Syawal.



PANTAI KUKUP

Pantai yang satu ini termasuk salah satu wisata pantai yang terkenal di Gunung Kidul. Selain memiliki pemandangan indah, Pantai Kukup ini juga memiliki daya tarik tersendiri dan berbeda dewngan pantai-pantai lainnya.


 Lokasi Pantai Kukup ini masih satu jalur dengan Pantai Indrayanti, Baron, Drini, Sundak dan lain-lain.
Di bagian bibir pantai terdapat lantai karang yang menjorok hingga ke selatam. Saat air laut sedang dalam keadaan surut, kita bisa melihat terumbu karang dan aneka biota laut lainnya seperti ikan-ikan kecil, rumput laut dan lain-lain, namun saat kunjungan ini kesempatan itu tidak muncul. Untuk mencapai pulau karang ada sebuah jembatan yang menghubungkan tebing dengan pulau karang tersebut, dan karenanya tidak perlu menyeberang lewat air laut.
                
 Meskipun tersedia jembatan penyeberangan namun untuk mencapai ujung jembatan ini harus terlebih dahulu menaiki tebing yang lumayan tinggi, dan rupanya tidak ada seorangpun peserta wisata yang berminat untuk naik ke pulau karang ini, mungkin dirasa terlalu tinggi dan perlu stamina yang cukup, yang terasa amat berat bagi seorang lansia.



PANTAI BARON

Pantai ini memiliki kekhususan dibanding pantai lainnya dengan air yang tenang dan ombak tidak terlalu besar. Oleh karenanya  di pantai ini ada penyewaan perahu untuk melaut. Tidak banyak para lansia yang tertarik memanfaatkan fasilitas ini karena faktor keberanian, disamping faktor kelelahan setelah berkunjung di dua pantai sebelumnya.


 Konon nama pantai Baron berasal dari seorang bangsawan Belanda yang bernama Baron Skeber, dan bangsawan tersebut pernah mendaratkan kapalnya di salah satu pantai di laut selatan, yang kemudian pantai ini diberi nama Pantai Baron.



Yang menarik di pantai ini juga adanya pasar pisang dengan barang dagangan berbagai jenis pisang, dan beberapa peserta wisata, khususnya ibu-ibu nampak memanfaatkannya dengan berbelanja pisang untuk oleh-oleh.



Di tempat penyewaan perahu, tercatat hanya satu keluarga yang bernyali untuk melaut dengan  menyewa perahu, dan hasilnya menurut penuturan mereka cukup mendebarkan dan menguras adrenalin saat perahu menjelang  masuk  laut bebas dimana ombak sudah mulai terasa besar.


Pantai Baron adalah tujuan akhir dari progam wisata ini, dan ternyata tidak seluruh peserta turun ke pantai,  sebagian lebih memilih untuk tetap tinggal di bus karena  sudah cukup terkuras staminanya saat berkunjung di dua pantai sebelumnya.



PENYELENGGARAAN WISATA 2017

Seperti halnya dengan program-program wisata terdahulu, program Wisata 2017 ini diselenggarakan secara gratis bagi para lansia, kecuali iuran sebesar Rp.20.000,00 per orang untuk membeli kotak makan siang, sementara untuk transportasi, parkir, retribusi dan lain-lain yang berhubungan dengan wisata ini seluruhnya ditanggung oleh pengurus, sementara untuk pengadaan snack pengurus mendapat donasi dari warga Kadipiro yang sejak awal selalu peduli dan banyak memberikan bantuan kepada Lansia Kadipiro.


Dalam program wisata kali ini peserta terdiri anggota Paguyuban Lansia Ngesti Laras Dusun Kadipiro, sedangkan  tempat duduk yang tersisa disediakan bagi warga Kadipiro non-lansia dengan kewajiban membayar biaya transport dll. Disamping  juga ada peserta undangan, yaitu mereka yang  dalam operasional kegiatan lansia ikut berperan aktif memberikan bantuan berupa jasa, misalnya kepelatihan dsb. Kepada mereka tidak dipungut biaya apapun.



 Secara umum program wisata ini berjalan tertib, lancar dan sukses, semua peserta  menunjukkan  suasana gembira, sejak berangkat sampai pulang kembali semua peserta dalam keadaan sehat, tanpa ada keluhan masuk angin, pusing, sakit perut  atau sejenisnya yang baisanya dirasakan oleh para lansia dalam bepergian jarak jauh dengan durasi hampir 15 jam.

Mudah-mudahan program wisata ini masih bisa terus berlanjut untuk dua tahun yang akan datang,  tentunya dengan tujuan wisata yang lain lagi. Apakah hal ini bisa terlaksana sangat bergantung kepada kemampuan finansial paguyuban untuk membiayainya. Bagaimanapun pengurus akan tetap berusaha menghimpun dana untuk itu. Semoga



Kamis, 16 Maret 2017

SABDA LUHUR SWARGA KAASTA


Gambar - 1
          Judul tulisan ini sepintas  gak nyambung dengan ilustrasi foto tumpeng dasawarsa. Ya memang, itulah sebuah budaya Jawa yang disebut Candra Sengkala atau Surya Sengkala. Memang tidak semua orang (khususnya Wong Jowo)  mengenal budaya ini, tapi itulah yang ingin saya angkat agar kita tetap mengenal budaya Jawa yang kata orang adiluhung. Lalu bagaimana cara melafalkan judul ini, ini yang benar sabdo luhur swargo kaasto dimana huruf “o” harus dibaca seperti melafalkan nama presiden kita Jokowi. Judul tulisan ini, menunjukkan bahwa Lansia Kadipiro lahir pada tahun 2007 menurut ilmu Surya Sengkala (Sabda = watak 7, Luhur=watak 0, Swarga=watak 0, dan Kaasta=watak 2), dan kalimat itu bermakna Titah dari Yang Maha Esa yang luhur akan membawa kita ke surga.

LOMBA CANGKRIMAN
             Begini, berapa banyak diantara kita sekarang ini yang katanya mengaku sebagai Orang Jawa, tapi sudah tidak peduli lagi terhadap ke-Jawaannya khususnya  dalam berbahasa Jawa. Bahasa Jawa semakin terpinggirkan oleh perkembangan jaman, karena penutur bahasa Jawa sudah semakin menipis. Coba mari kita perhatikan di lingkungan keluarga kita sendiri, masihkah anak-anak kita, cucu-cucu kita menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan posisi penutur terhadap orang yang diajak bicara, khususnya kepada yang lebih tua. Itu baru dari aspek bahasa tutur, lalu bagaimana dengan bahasa tulis? Lebih parah lagi ! Saat saya menyiapkan tulisan ini, ada WA message di HP saya, tertulis begini : “Sampon tak terusaken dateng pak Sekwilcam”. Saya mafhum memang apa yang dia maksud, tapi, seberapa banyak orang yang menulis secara salah untuk kata-kata dengan bunyi “u” (seperti bunyi kata “tahu”, bunyi huruf “e” seperti bunyi kata “mulih”). Sesak rasanya dada ini kalau membaca tulisan di SMS, WA atau lainnya secara serampangan dengan menulis : sampon, maleh, paklek, bulek, njeh, yang seharusnya ditulis : sampun, malih, paklik, bulik,njih ?
          Menyadari hal ini, saya terinspirasi untuk menyisipkan acara CANGKRIMAN dalam lomba memperingati satu dasa warsa Lansia Kadipiro tanggal 22 Pebruari 2017. Mengapa saya pilih Cangkriman, tentunya berkaitan dengan ke-sudah-lupaan kita dalam berbahasa Jawa dan ke-sudah-lupaan kita kepada tradisi serta kebiasaan masa kecil kita dulu, dimana anggota keluarga berkumpul di ruang tengah rumah diatas gelaran tikar pandan,  lalu orang tua kita atau simbah kita mengajak anak-anak dan cucu-cucu cangkriman. Suasana nostalgia semacam itulah yang ingin saya bangun dengan menyelenggarakan cabang lomba ini, walaupun belum sepenuhnya berhasil.

Gambar - 2
 
Gambar - 3
Tercatat 16 orang peserta (terbanyak diantara cabang lomba yang lain), dan mereka bertanding satu lawan satu melalui undian. Namun hasilnya agak kurang memuaskan karena dari 10 pertanyaan yang saling dilontarkan hanya dua orang yang berhasil mendapat 5 poin jawaban benar, lainnya hanya pada kisaran 1 atau 2 poin saja. Betapa mereka terkejut-kejut mendapatkan kata-kata seperti cekakik (ampas kopi sisa setelah diminum), dlongop (bunga pohon duren, janggleng (buah pohon jati), kombong (kandang ayam, bebek), singgat (anak lalat). Tetapi bagaimanapun juga saya cukup puas atas antusiasme mereka dalam mengikuti lomba cangkriman ini,  bahkan ada yang minta agar lebih sering lagi diselenggarakan acara serupa.Tampil sebagai pemenang lomba  ini Ibu C. Sukapti ( juara I, mantan guru), Ibu Umi Salamah (juara II, mantan guru bahasa jawa), Ibu CH Tatik Tariyati (juatra III, ibu rumah tangga).
Gambar - 4

LOMBA MEMAKAI JILBAB
          Siapa bilang bahwa lansia tidak perlu lagi mematut diri, justru  dalam usia senja ini lansia masih perlu untuk mematut diri untuk menunjukkan jati dirinya bahwa kami adalah lansia yang masih percaya diri,  yang sehat, sejahtera, mandiri, iman dan taqwa. Kita semua tentu tidak ingin melihat lansia yang berpenampilan loyo dan tubuhnya tidak terawat. Itu sebabnya lomba memakai jilbab diselenggarakan sebagai aktualisasi dari kebiasaan mematut diri. Peserta dituntut untuk bisa menunjukkan kemampuan bagaimana merias diri, dan menjaga keserasian berbusana.

Gambar - 5
Lomba dimenangkan oleh Ibu Hj. Bunayah sebagai juara I, Ibu Sunarti juara II dan Ibu Wihartati sebagai juara III.

Gambar - 6
 Khusus tentang pemenang I, dari foto-foto yang saya tampilkan  bisa disaksikan betapa beliau telah benar-benar menguasai bagaimana menyerasikan tampilan dan mengkombinasi pakaian serta jilbab yang dikenakan, dan tentunya penyesuaian akhir dengan usianya. Beliau memilih warna yang sederhana berupa busana berwarna beige sebagai tampilan keseluruhan, disesuaikan dengan warna kulit dan usianya.
Gambar - 7
Dari tangkapan kamera harus diakui bahwa wajah beliau
yang (maaf) diatas rata-rata (kalau tidak boleh dikatakan masih ada sisa-sisa kecantikan masa lalu), yang  sedikit banyak ikut mendongkrak penilaian oleh team juri. Terbukti dalam penilaian 5 orang juri yang terdiri dari 3 orang (on the spot), dan 2 orang (jarak jauh, on line) semuanya sepakat memberikan nilai tertinggi buat beliau. Mengapa dipilih juri jarak jauh (satunya Ibu Mia, dan satu lagi Ibu Denita, dari Batam) memang saya maksudkan agar mereka bisa menilai dari sisi photogenik, yaitu penilaian berdasar hasil tangkapan kamera
Membuktikan bahwa beliau memang masih memiliki sisa-sisa kecantikan masa lalu, inilah foto bersama putri-putri beliau (Tety dan Lia, yg juga kader lansia Kadipiro), hampir tidak ada bedanya alias 11-12.

LOMBA TTS
          Untuk ketiga-kalinya saya membuat TTS untuk lomba dalam acara HUT Lansia Kadipiro, dan ternyata membuat TTS  sulit itu jauh lebih mudah dibanding membuat TTS mudah. Bagaimana bisa begitu? Membuat TTS mudah itu jauh lebih sulit karena  setiap kata harus dipertimbangkan apakah cukup mudah bagi calon peserta lomba nanti. Inilah yang menyebabkan jadi sulit karena apabila tautan silangan telah terbentuk dan  ternyata ada satu kata yang dirasa terlalu sulit maka harus mengganti dan membongkar kata-kata lain terkait.
Gambar - 8
Tidak heran kalau untuk lomba kali ini saya perlu waktu seminggu untuk menyiapkan, dibanding hanya butuh waktu 3 hari saat saya membuat TTS untuk diikut-sertakan dalam lomba membuat TTS (dan alhamdulillah saya tercatat sebagai salah satu pemenang) dengan tingkat kesulitan setara TTS Kompas Minggu, Koran Tempo, Media Indonesia atau Suara Merdeka. Dalam pembuatannya saya hanya fokus bahwa soalnya harus sesulit TTS koran-koran tersebut.
Kembali ke TTS HUT Lansia, tak pelak  akhirnya saya terpaksa  memasukkan kata-kata yang termasuk sulit demi menjaga tautan-silangan, seperti misalnya GRAMENG (Bunga pohon garut), DEKSURA (Kurang ajar, tidak tahu sopan santun), ELTOR (Sejenis penyakit perut), DIANG (Memanaskan diri dekat api).
Gambar - 9

           Dari semua peserta akhirnya tidak ada satupun yang menyelesaikan secara penuh dalam waktu 2 jam yang tersedia. Keluar sebagai pemenang akhirnya Bp. Drs. SUKOTJO juara I, Ibu C. SUKAPTI juara II dan Bp. ARIEF PRIYADI juara III. Dua diantaranya adalah mantan pendidik, dan seorang lagi mantan PNS.


Gambar -10
LOMBA DAKON
   
Gambar - 11
      Permainan Dakon ternyata mempunyai berbagai nama, ada yang menyebut Congklak (Jawa), Magaleceng (Sulawesi), Mancala (Inggris), dan yang paling dahsyat Dentuman lamban (Lampung). Dalam sejarahnya dakon termasuk jenis permainan tertua, karena sudah ditemukan di Mesir sekitar 15 abad sebelum masehi, dan masuk ke Indonesia  diibawa oleh para pedagang bangsa Arab yang selain berdagang sekaligus juga pendakwah.

 Makna filosofis dari permainan dakon adalah adanya lubang yang disebut lumbung, yang bermakna menyimpan segala sesuatu setelah melalui usaha  mengumpulkan sedikit demi sedikit, disamping  juga makna gotong royong dan persaudaraan karena seorang pemain dakon juga berkewajiban mengisi lubang-lubang milik lawan.
Gambar -12

          Meskipun kebanyakan dimainkan anak-anak, khususnya perempuan,  permainan ini diselenggarakan dengan tujuan agar mereka bisa mengenang kembali masa kanak-kanak betapa serunya dulu bermain dakon. Seperti sudah diduga sebelumnya lomba  hanya diikuti oleh eyang-eyang putri dan tak ada satupun eyang kakung yang ikut serta. Tampil sebagai pemenang lomba ini adalah Ibu CH. Tatik Tariyati (juara I), Ibu Ngatiyem (juara II) dan Ibu Sunarti (juara III).
Prestasi tercepat  ditunjukkan oleh Ibu CH. Tatik Tariyati yang dalam waktu sekitar  10 menit sudah mengakhiri permainan sekaligus  pengumpul biji terbanyak.

LOMBA MEMBUAT LOTEK

          Era kejayaan lotek sebagai makanan favorit di Kadipiro surut seiring dengan surutnya Ibu Sosro dari aktivitas bisnis jualan lotek, karena tenaganya sudah tidak memadai lagi seiring dengan lanjutnya usia.

Gambar - 13
 Oleh karenanya agar lotek sebagai makanan favorit tidak ikutan surut,  untuk kedua kalinya acara HUT Lansia Kadipiro diramaikan acara lomba membuat lotek. Sayangnya lomba ini hanya diikuti oleh eyang-eyang putri saja tanpa diikuti oleh eyang-eyang kakung meskipun sebenarnya  terbuka untuk siapa saja tanpa mengenal gender. 

Gambar - 14
Di mata dan  di lidah saya lotek tetap makanan yang perlu difavoritkan ditinjau dari berbagai aspek, menyehatkan karena penuh dengan sayur mayur (kecuali mungkin kacang yang perlu diwaspadai oleh penderita asam urat tinggi). Untung saja saya tidak menjadi juri dalam lomba ini, karena seandainya saya menjadi juri mungkin hampir semuanya mendapat nilai rendah karena bukan main pedasnya di lidah saya, meskipun secara keseluruhan tetap enak.
Gambar - 15

Tampil sebagai pemenang Ibu Wihartati (juara I, Ibu CH. Tatik Tariyati (juara II), dan Ibu Marsuci (juara III)

LOMBA KESERASIAN BERSERAGAM
          Apa yang sebenarnya mendorong lomba ini diselenggarakan dalam Dasawarsa Lansia Kadipiro, saya ingin bahwa seorang lanjut usia tidak seharusnya berpenampilan loyo, “nglomprot” (maaf ini saya gunakan istilah lawa timuran yang agak sukar dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia).

Gambar - 16
          Saya ingin menunjukkan bahwa dari sisi penampilan seorang yang walaupun usianya sudah berkepala 6  atau 7, tetap harus berpenampilan rapi (kalau tidak boleh dikatakan tetap trendy) walaupun tetap ada batasan-batasan yang berlaku sesuai dengan umurnya (kan tetap tidak elok kalau seorang lansia berpenampilan bak seorang rocker atau lady rocker). Jadi itulah makna yang terkandung dalam lomba keserasian berpakaian (seragam), usia boleh tua, tetapi penampilan tetap harus rapi, trendy dan berjalan dengan tegak (tapi bukan bak seorang militer), dan wajah yang riang. Untuk tampil seperti ini tidak harus dengan biaya mahal, karenanya dipilih pakaian seragam sebagai pakaian atasan, dan untuk bawahannya terserah kreasi masing-masing.

Gambar - 17

 Tampil sebagai pemenang lomba ini Bp. Arief Priyadi (juara I), Ibu Hj. Bunayah (juara II) dan Bp. Supomo (juara III).

Gambar - 18





TUMPENGAN
Gambar - 19
          Ada satu hal yang agak menyimpang dari pakem, biasanya pada acara ulang tahun selalu yang berulang tahun yang memotong tumpeng, tetapi untuk kali ini pemotong tumpeng saya amanahkan  kepada Ibu Drg. Widowati Novia yang hadir selaku Kepala Puskesmas Mungkid didampingi Bu Mia dan Bu Lies.
Gambar - 20

 Saya berpendapat bahwa beliau layak dimuliakan karena hadir dalam acara HUT Lansia Kadipiro, sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu beliau, dan sudah pada tempatnya bila saya memberi kehormatan kepada beliau untuk memotong tumpeng.
Sebagai penerima potongan tumpeng saya pilih Ibu Marsuci yang saya anggap paling berhak untuk menerima apresiasi yang tinggi sesuai dengan kegigihan beliau dalam mengikuti kegiatan Posyandu maupun acara lainnya. Dalam kondisi phisik yang sudah tidak sepenuhnya mendukung, beliau masih menyempatkan diri hadir dalam semua kegiatan yang tidak bersifat phisik. Untuk berjalanpun beliau memerlukan dua tongkat pembantu, dengan jalan selangkah demi selangkah dan tertatih-tatih berangkat dari rumah.
Tentu saja, pilihan dan apresiasi saya ini bukan tanpa alasan, harapan saya beliau bisa menjadi teladan dan contoh bagi lansia yang lain, bahwa keterbatasan gerak bukanlah halangan untuk tetap ikut berpartisipasi pada setiap kegiatan yang diselenggarakan Paguyuban Lansia Kadipiro.

Mengakhiri reportase rangkaian kegiatan  Dasawarsa Lansia Kadipiro, saya mengajak seluruh stake holder Paguyuban Lansia Kadipiro untuk bersama-sama mengucapkan Dirgahayu Lansia Kadipiro. Tetap semangat!!!!!!!

Selasa, 07 Februari 2017

OLAH DATA DI LANSIA KADIPIRO

          Saat awal kegiatan, saya dihadapkan pada setumpuk buku, hasil nyontek lansia tetangga, dan para kader yang saya tanya menyatakan bahwa buku-buku itu adalah buku wajib dan merupakan pakemnya organisasi kemasyarakatan  semacam lansia ini. Maklumlah kader-kader ini juga aktivis di PKK, Posyandu Balita, Dasa Wisma dan sebagainya.
Olah data dengan IT
Setelah saya pelajari, okelah pakai buku-buku ini dan para kader dengan setianya mengisi buku2 tsb sebagaimana biasanya dilakukan di lembaga lain dimana mereka aktif. Hitung2 saya juga menghargai jerih payah mereka sampai-sampai harus menyontek ke lansia tetangga. Tetapi diam-diam saya siapkan cara yang lebih praktis untuk mengubah data ini menjadi informasi. Harus diakui bahwa masih banyak  yg belum dapat membedakan apa itu data, dan apa itu informasi, kebanyakan orang menganggap bahwa keduanya sama saja.

          Kembali ke masalah buku wajib, saya membayangkan betapa repot, sulit dan rumitnya bila saya harus menyajikan informasi misalnya : berapa orang dari golongan PRA LANSIA, LANSIA dan RISTI yang hadir dalam setiap kegiatan Posyandu Lansia, dari tiap2 golongan itu berapa yang mengidap hypertensi, yang normal dan yang tekanan darah rendah, sementara data yang ada dalam buku itu angka besaran hasil pemeriksaan tensi masing2 orang. Belum lagi yang menyangkut berat badan, IMT dan lain-lain. Sungguh ribet dan repot pol.

Saya memahami bila diantara instansi-instansi pembina lansia yang tetap berpedoman bahwa buku-buku itu adalah wajib dan merupakan pakem, tapi mudah-mudahan tulisan saya ini bisa membuka cakrawala pandang baru bahwa yang diperlukan adalah informasi, bukan sekedar data.

Beruntung saya memiliki sedikit ilmu tentang pemrograman untuk mendevelop sebuah software pengolah data. Bahasa pemrograman yang saya gunakan adalah Microsoft Visual Foxpro. Walaupun sebenarnya hanya kurang dari 10% yang saya kuasai dari bahasa pemrograman ini, saya tetap percaya diri bahwa itupun sudah cukup untuk mendevelop sebuah software untuk mengolah data organisasi sekecil posyandu lansia ini. Penguasaan mendekati 100% memang harus dikuasai kalau pemakai softwarenya adalah perusahaan besar yang omzetnya mungkin triliunan rupiah per tahun.

Mari kita sekarang masuk ke uraian tentang software pengolah data yang saya maksud. 
Pencatatan manual yang diperlukan saat pelaksanaan posyandu lansia hanyalah pencatatan
diatas selembar kupon kecil seperti
Kupon isian data
gambar disamping, yang  memuat 3 data tentang : hasil penimbangan badan, hasil pemeriksaan tensi dan apakah lansia ybs memerlukan pengobatan atau tidak. Inilah gambaran flow of datanya :






PENIMBANGAN BADAN
DATA BERAT BADAN DICATAT PETUGAS PENIMBANGAN BADAN 
DALAM KUPON
        


HASIL PEMERIKSAAN TENSI DICATAT DALAM KUPON 
DILENGKAPI DATA APAKAH PERLU PEMERIKSAAN ATAU TIDAK, SEKALIGUS  DIINPUT KE SOFTWARE

HASIL OLAHDATA

Demikian aliran data mulai dari penimbangan badan sampai keluarnya hasil pengolahan data menjadi informasi.

Nah, mari kita simak seperti apa software pengolah data ini dalam bentuk layar layarnya.

Menu Utama
 Menu Utama, yang berisi opsi : Input Data, Tampilkan data, Undangan dan Exit
 Untuk pembahasan ini dipilih Input Data dan inilah  tampilan berupa opsi  data apa yang  akan diinput.
Opsi pilihan input data
Disini saya hanya fokus untuk membahas masalah pengolahan data posyandu saja maka dipilih (klik) opsi  Posyandu, yang berarti akan diinput data Posyandu Lansia. Input data Penduduk jarang sekali digunakan, kecuali terjadi mutasi penduduk di Dusun Kadipiro. 

Pilihan pada Opsi Posyandu akan memunculkan pilhan bulan apa dan tahun berapa.
Ambillah misalnya Desember, yang kemudian akan diikuti pilihan tahun 2016. 

Berikut tampilan form isian data untuk posyandu lansia.
Sebagai  contoh diinput data hasil Posyandu Lansia untuk lansia bernama HASANAH, bulan tahun terisi otomatis, tinggal ketik Berat badan, Tensi Sistolik, Tensi Diastolik dan pilihan apakah akan melakukan pemeriksaan kesehatan atau tidak, dengan klik Ya atau Tidak.

Selesai dilakukan input data seorang lansia, maka hasilnya akan ditampilkan sebagai berikut. 
Hasil Input data
Dalam gambar kanan bawah berlatar hijau adalah tampilan alert bagi penginput data yang memberikan peringatan  bahwa lansia ybs tergolong  Gemuk Berat (obesitas) dan tekanan darahnya sudah tergolong pada Hypertensi Tingkat III, dan IMT-nya sudah jauh diatas normal, dan oleh karenanya harus disarankan bahwa kondisi ini memerlukan tindakan lanjut.
Demikian dilakukan hal yang sama untuk semua lansia yang hadir pada hari itu.
Catatan: angka-angka tersebut adalah semata untuk simulasi dan bukan data sebenarnya demi menjaga kerahasiaan data pribadi yang bersangkutan.

Selesai Input Data kembali ke Menu Utama untuk memilih Opsi Tampilkan Data.

Opsi pilihan Tampilkan data


Pada pilihan Tampilkan Data pada Menu Utama, akan disajikan opsi berikut, dan karena pokok bahasan ini adalah Posyandu Lansia, maka dipilih (klik) Rekap Posyandu, untuk menampilkan data-data pemeriksaan pada Posyandu Lansia hari itu.

Opsi Rekap Posyandu
Untuk menampilkan Rekap Posyandu tersedia pilihan apakah Rekap Bulanan, atau Rekap Per Anggota. Kali ini  dipilih (klik) Rekap Bulanan, yang berarti rekap data posyandu lansia pada bulan pilihan.

Dalam opsi pilihan lewat menu Opsi Pilihan Bulan dan Tahun,  dipilih sebagai contoh bulan Desember dan tahun 2016 karena saat awal input data adalah untuk bulan tahun tersebut.

Rekap Data bulanan

Inilah hasil olahdata untuk Posyandu bulan Desember 2016 untuk semua lansia yang hadir pada Posyandu Lansia bulan itu yang diselenggarakan tanggal 9-12-2016, yang pada intinya informasi yang ditampilkan dalam kolom-kolom sebagai berikut :


NAMA  - JENIS - UMUR : nama lansia yang hadir pada Posyandu Lansia, jenis kelamin dan umurnya pada saat dilaksanakannya Posyandu Lansia. Data Umur akan otomatis menyesuaikan dengan tanggal posyandu
HADIR (%) : menampillkan informasi untuk keberapa kalinya hadir sejak pertama kali diselenggarakan posyandu lansia (pada tahun 2007) sampai dengan bulan itu, dan sekaligus prosentasenya. Informasi ini sangat bermanfaat  untuk melihat rajin atau tidak-nya hadir di posyandu lansia   
PERIKSA (%)  : menampilkan informasi sudah  keberapa kali sejak saat pertama kali posyandu diselenggarakan  ybs melakukan pengobatan sekaligus prosentasenya. Informasi ini menunjukkan seberapa tingkat kesehatannya, apakah sering menderita sakit atau tidak.
TENSI  : hasil pemerikaan tensi pada hari itu, sekaligus tingkat hypertensinya
BERAT : hasil penimbangan bada pada hari itu, dan sekaligus klasifikasinya (obesitas)   
I M T     : perhitungan IMT (Index Massa Tubuh) sesuai rumus  yang  berlaku

Catatan : nama-nama sengaja disamarkan karena ini data sebenarnya yang menyangkut informasi pribadi seseorang

Rekap Data per kelompok usia
            Inilah tampilan akhir untuk Posyandu Lansia tanggal 9-12-2016 yang diakhiri dengan tampilan Rekap      data berupa informasi tentang  Berapa jumlah yang : Hadir, Periksa kesehatan, Penderita Hypertensi, Penderita Darah Rendah, Tekanan Normal, Berat Badan Lebih, Berat Badan Kurang dan Berat   Badan Normal, semuanya telah terkelompok untuk Pra Lansia (45-49 th), Lansia (60-69 th), dan Risti (=>70 th), sekaligus prosentasenya. Inilah yang kami sebut dengan Informasi karena telah dipaparkan dengan jelas Rekap dari semua kegiatan pada hari itu, dan relatif dalam waktu yang amat singkat, katakanlah hanya dalam hitungan detik setelah data terakhir diinput. Bisa dibayangkan berapa hari yang diperlukan untuk mengolah dari data menjadi informasi seperti itu seandainya tetap berpegang pada buku wajib sesuai pakem yang ada.

            Kembali ke Gambar Opsi Rekap Posyandu, bila dipilih opsi Per Anggota, akan disajikan lagi Opsi apakah untuk satu tahun tertentu. Misalnya dipilih Per Tahun, maka sistem akan meminta siapa nama yang ingin ditampilkan, dan tahun berapa.. Sebagai contoh dipilih untuk lansia atas nama HASANAH dan untuk tahun 2016. Hasilnya adalah seperti gambar berikut 

Tampilan data per orang selamam 1 tahun
Bila pilihan pada opsi Seluruh Tahun maka akan ditampilkan mulai tahun 2007 sampai trerakhir tahun berapa input data Posyandu Lansia dilakukan.

          Dari data-data yang terolah akan dengan mudah dielaborasi  menjadi bentuk informasi yang lain, sesuai kebutuhan, baik itu kepentingan sendiri atau lembaga lain yang membutuhkan laporan-laporan, grafik-grafik dan sebagainya.

          Sebenarnya masih banyak fitur dari Software ini, namun kali ini saya batasi pembahasannya sebatas bagaimana mengolah data menjadi informasi, khususnya yang berkaitan dengan Posyandu Lansia. Misi saya untuk menampilkan ini semata-mata hanya ingin memberi penegasan bahwa sesunguhnya Lansia Kadipiro tidak menolak  terhadap pakem-pakem pencatatan data lewat media buku (manual), tetapi lebih pada segi kepraktisan dan kemudahan dengan memanfaatkan perangkat IT dalam memperoleh dan menampilkan informasi tentang hasil kegiatan Posyandu Lansia, Dari informasi yang didapat akan ditentukan tindak lanjut apa yang perlu diambil, baik untuk lansia secara perorangan atau lansia keseluruhan yang dapat bermuara pada kebijakan-kebijakan apa yang mesti diambil atau diperbarui.

          Mungkin setelah membaca tulisan ini akan timbul pertanyaan apakah sistem seperti ini dapat diterapkan di kelompok Lansia yang lain, ataukah hanya bisa diterapkan di Lansia Kadipiro saja. Jawabnya tentu saja bisa sistem ini diterapkan di kelompok lansia manapun, asalkan dipenuhi beberapa persyaratan. Pertama, apakah tersedia perangkat IT, tentunya tergantung dari kebijakan masing-masing kelompok lansia, karena bukankah sekarang terbuka kesempatan untuk pengadaan perangkat IT melalui usulan Dana Desa. Kedua, apakah tersedia tenaga pelaksana yang menguasai IT ? Jawabnya mestinya tersedia; bukankah di dusun-dusun sekarang ini  banyak orang-orang muda (maksudnya dilingkungan keluarga lansia, anak, cucu, penduduk sekitar dll) yang sudah banyak mengenal dan menguasai dunia IT. Ketiga, apakah dilingkungan kelompok lansia ybs sudah perlu adanya program pengolah data seperti ini, tentunya terpulang kepada para pengasuh di lingkungan lansia masing-masing apakah ada minat untuk melangkah dari pakem-pakem pencatatan data lewat media buku ke pencatatan dan pengolahan data lewat perangkat IT.  Perlu diingat, bahwa sarana pengolahan data lewat IT sama sekali  tidak harus selalu mencontoh apa yang saya buat, karena bukankah di dunia pegolahan data banyak tersedia perangkat-perangkat lunak dan bahasa pemrograman lain seperti Microsoft Excel dan lain-lain. Keempat, apakah dalam penerapan sistem ini diperlukan tambahan biaya operasional, jawabnya tentu saja tidak, biaya awal hanya diperlukan saat pengadaan perangkat keras (komputer desktop, atau laptop) dan printer.



Semoga bermanfaat dan memberikan inspirasi..........