Lagi-lagi berwisata, apa gak bosan? Tapi itulah program yang
dicanangkan dua tahun sekali di Lansia Kadipiro. Program wisata bagi semacam
ini pada dasarnya bertujuan memberikan kesempatan berekreasi dan refreshing
kepada merekapara lansia ditengah kesibukan dan himpitan problema hidup
sehari-hari. Disamping itu juga memberi kesempatan bagi mereka yang mungkin
agak kurang beruntung tidak mampu menyelenggarakan acara wisata sendiri karena
berbagai kendala. Program Wisata 2017 yang diselenggarakan tanggal 2 April 2017
ini adalah program keempat sejak dimulainya kegiatan Posyandu Lansia Kadipiro
sejak 2007.
Dengan menggunakan bus wisata Remaja Trans, tujuan wisata
yang dipilih tahun ini adalah kabupaten dengan seribu pantai, yaitu Kabupaten
Gunung Kidul, dan pantai yang terpilih adalah Indrayanti, Kukup dan Baron.
Sulit rasanya untuk mencari bandingan keindahan pantai-pantai
di Gunung Kidul ini, kecuali tentunya dengan pantai-pantai di luar negeri.
Simak saja foto-foto yang diunggah bersama artikel ini, betapa indahnya
pantai-pantai tersebut.
PANTAI INDRAYANTI
Sebenarnya pantai ini bernama asli
Pantai Pulang Syawal, tetapi nama ini kurang keren dibanding dengan nama yang
diberikan oleh para pengunjung. Awalnya saat pantai ini baru dibuka dan belum
terkenal, ada seorang pengusaha yang
berani mengambil resiko dengan mendirikan sebuah rumah makan ditepi pantai yang
diberi nama Indrayanti.
Jadi nama inilah yang kemudian
tertanam di benak para pengunjung ....Indrayanti....
menjadi nama pantai yang lebih keren dan populer dibanding nama aslinya Pulang
Syawal.
PANTAI
KUKUP
Pantai
yang satu ini termasuk salah satu wisata pantai yang terkenal di Gunung Kidul.
Selain memiliki pemandangan indah, Pantai Kukup ini juga memiliki daya tarik
tersendiri dan berbeda dewngan pantai-pantai lainnya.
Di
bagian bibir pantai terdapat lantai karang yang menjorok hingga ke selatam. Saat
air laut sedang dalam keadaan surut, kita bisa melihat terumbu karang dan aneka
biota laut lainnya seperti ikan-ikan kecil, rumput laut dan lain-lain, namun
saat kunjungan ini kesempatan itu tidak muncul. Untuk mencapai pulau karang ada
sebuah jembatan yang menghubungkan tebing dengan pulau karang tersebut, dan
karenanya tidak perlu menyeberang lewat air laut.
Meskipun tersedia jembatan penyeberangan namun
untuk mencapai ujung jembatan ini harus terlebih dahulu menaiki tebing yang
lumayan tinggi, dan rupanya tidak ada seorangpun peserta wisata yang berminat
untuk naik ke pulau karang ini, mungkin dirasa terlalu tinggi dan perlu stamina
yang cukup, yang terasa amat berat bagi seorang lansia.
PANTAI BARON
Pantai
ini memiliki kekhususan dibanding pantai lainnya dengan air yang tenang dan
ombak tidak terlalu besar. Oleh karenanya
di pantai ini ada penyewaan perahu untuk melaut. Tidak banyak para
lansia yang tertarik memanfaatkan fasilitas ini karena faktor keberanian,
disamping faktor kelelahan setelah berkunjung di dua pantai sebelumnya.
Konon nama pantai Baron berasal dari seorang bangsawan
Belanda yang bernama Baron Skeber, dan bangsawan tersebut pernah mendaratkan
kapalnya di salah satu pantai di laut selatan, yang kemudian pantai ini diberi
nama Pantai Baron.
Yang menarik di pantai ini juga adanya pasar pisang dengan barang
dagangan berbagai jenis pisang, dan beberapa peserta wisata, khususnya ibu-ibu
nampak memanfaatkannya dengan berbelanja pisang untuk oleh-oleh.
Di
tempat penyewaan perahu, tercatat hanya satu keluarga yang bernyali untuk melaut
dengan menyewa perahu, dan hasilnya
menurut penuturan mereka cukup mendebarkan dan menguras adrenalin saat perahu
menjelang masuk laut bebas dimana ombak sudah mulai terasa besar.
Pantai
Baron adalah tujuan akhir dari progam wisata ini, dan ternyata tidak seluruh
peserta turun ke pantai, sebagian lebih memilih
untuk tetap tinggal di bus karena sudah
cukup terkuras staminanya saat berkunjung di dua pantai sebelumnya.
PENYELENGGARAAN
WISATA 2017
Seperti halnya dengan program-program wisata terdahulu,
program Wisata 2017 ini diselenggarakan secara gratis bagi para lansia, kecuali
iuran sebesar Rp.20.000,00 per orang untuk membeli kotak makan siang, sementara
untuk transportasi, parkir, retribusi dan lain-lain yang berhubungan dengan
wisata ini seluruhnya ditanggung oleh pengurus, sementara untuk pengadaan snack
pengurus mendapat donasi dari warga Kadipiro yang sejak awal selalu peduli dan
banyak memberikan bantuan kepada Lansia Kadipiro.
Dalam program wisata kali ini peserta terdiri anggota Paguyuban
Lansia Ngesti Laras Dusun Kadipiro, sedangkan tempat duduk yang tersisa disediakan bagi
warga Kadipiro non-lansia dengan kewajiban membayar biaya transport dll.
Disamping juga ada peserta undangan,
yaitu mereka yang dalam operasional
kegiatan lansia ikut berperan aktif memberikan bantuan berupa jasa, misalnya
kepelatihan dsb. Kepada mereka tidak dipungut biaya apapun.
Secara
umum program wisata ini berjalan tertib, lancar dan sukses, semua peserta menunjukkan suasana gembira, sejak berangkat sampai pulang
kembali semua peserta dalam keadaan sehat, tanpa ada keluhan masuk angin, pusing,
sakit perut atau sejenisnya yang baisanya
dirasakan oleh para lansia dalam bepergian jarak jauh dengan durasi hampir 15
jam.
Mudah-mudahan
program wisata ini masih bisa terus berlanjut untuk dua tahun yang akan datang,
tentunya dengan tujuan wisata yang lain
lagi. Apakah hal ini bisa terlaksana sangat
bergantung kepada kemampuan finansial paguyuban untuk membiayainya.
Bagaimanapun pengurus akan tetap berusaha menghimpun dana untuk itu. Semoga













Tidak ada komentar:
Posting Komentar