![]() |
| Gambar - 1 |
Judul
tulisan ini sepintas gak nyambung dengan
ilustrasi foto tumpeng dasawarsa. Ya memang, itulah sebuah budaya Jawa yang
disebut Candra Sengkala atau Surya Sengkala. Memang tidak semua orang
(khususnya Wong Jowo) mengenal budaya
ini, tapi itulah yang ingin saya angkat agar kita tetap mengenal budaya Jawa
yang kata orang adiluhung. Lalu bagaimana cara melafalkan judul ini, ini yang
benar sabdo luhur swargo kaasto dimana huruf “o”
harus dibaca seperti melafalkan nama presiden kita Jokowi. Judul tulisan
ini, menunjukkan bahwa Lansia Kadipiro lahir pada tahun 2007 menurut ilmu Surya
Sengkala (Sabda = watak 7, Luhur=watak 0, Swarga=watak 0, dan Kaasta=watak 2), dan
kalimat itu bermakna Titah dari Yang Maha Esa yang luhur akan membawa kita ke
surga.
LOMBA
CANGKRIMAN
Begini,
berapa banyak diantara kita sekarang ini yang katanya mengaku sebagai Orang
Jawa, tapi sudah tidak peduli lagi terhadap ke-Jawaannya
khususnya dalam berbahasa Jawa. Bahasa Jawa semakin terpinggirkan oleh
perkembangan jaman, karena penutur bahasa Jawa sudah semakin menipis. Coba mari
kita perhatikan di lingkungan keluarga kita sendiri, masihkah anak-anak kita,
cucu-cucu kita menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan posisi penutur terhadap
orang yang diajak bicara, khususnya kepada yang lebih tua. Itu baru dari aspek bahasa
tutur, lalu bagaimana dengan bahasa tulis? Lebih parah lagi ! Saat saya
menyiapkan tulisan ini, ada WA message di HP saya, tertulis begini : “Sampon
tak terusaken dateng pak Sekwilcam”. Saya mafhum memang apa yang dia maksud,
tapi, seberapa banyak orang yang menulis secara salah untuk kata-kata dengan
bunyi “u” (seperti bunyi kata “tahu”, bunyi huruf “e” seperti bunyi kata
“mulih”). Sesak rasanya dada ini kalau membaca tulisan di SMS, WA atau lainnya
secara serampangan dengan menulis : sampon, maleh, paklek, bulek, njeh, yang
seharusnya ditulis : sampun, malih, paklik, bulik,njih ?
Menyadari hal
ini, saya terinspirasi untuk menyisipkan acara CANGKRIMAN dalam lomba
memperingati satu dasa warsa Lansia Kadipiro tanggal 22 Pebruari 2017. Mengapa
saya pilih Cangkriman, tentunya berkaitan dengan ke-sudah-lupaan kita dalam
berbahasa Jawa dan ke-sudah-lupaan kita kepada tradisi serta kebiasaan masa kecil
kita dulu, dimana anggota keluarga berkumpul di ruang tengah rumah diatas
gelaran tikar pandan, lalu orang tua
kita atau simbah kita mengajak anak-anak dan cucu-cucu cangkriman. Suasana
nostalgia semacam itulah yang ingin saya bangun dengan menyelenggarakan cabang
lomba ini, walaupun belum sepenuhnya berhasil.
![]() |
| Gambar - 2 |
Tercatat 16
orang peserta (terbanyak diantara cabang lomba yang lain), dan mereka bertanding satu
lawan satu melalui undian. Namun hasilnya agak kurang memuaskan karena dari 10
pertanyaan yang saling dilontarkan hanya dua orang yang berhasil mendapat 5
poin jawaban
benar, lainnya hanya pada kisaran 1 atau 2 poin saja. Betapa mereka
terkejut-kejut mendapatkan kata-kata seperti cekakik (ampas kopi sisa setelah diminum), dlongop (bunga pohon duren, janggleng
(buah pohon jati), kombong (kandang
ayam, bebek), singgat (anak lalat).
Tetapi bagaimanapun juga saya cukup puas atas antusiasme mereka dalam mengikuti
lomba cangkriman ini, bahkan ada yang minta
agar lebih sering lagi diselenggarakan acara serupa.Tampil sebagai pemenang lomba ini Ibu C. Sukapti ( juara I, mantan guru), Ibu
Umi Salamah (juara
II, mantan guru bahasa jawa), Ibu CH Tatik Tariyati (juatra III, ibu rumah
tangga).
![]() |
| Gambar - 4 |
LOMBA MEMAKAI JILBAB
Siapa bilang
bahwa lansia tidak perlu lagi mematut diri, justru dalam usia senja ini lansia masih perlu untuk
mematut diri untuk menunjukkan jati dirinya bahwa kami adalah lansia yang masih
percaya diri, yang sehat, sejahtera,
mandiri, iman dan taqwa. Kita semua tentu tidak ingin melihat lansia yang berpenampilan
loyo dan tubuhnya tidak terawat. Itu sebabnya lomba memakai jilbab diselenggarakan
sebagai aktualisasi dari kebiasaan mematut diri. Peserta dituntut untuk bisa menunjukkan
kemampuan bagaimana merias diri, dan menjaga keserasian berbusana.
![]() |
| Gambar - 5 |
Lomba dimenangkan
oleh Ibu Hj. Bunayah sebagai juara I, Ibu Sunarti juara II dan Ibu Wihartati
sebagai juara III.
![]() |
| Gambar - 6 |
Khusus tentang pemenang I, dari foto-foto yang saya tampilkan bisa disaksikan betapa beliau telah benar-benar
menguasai bagaimana menyerasikan tampilan dan mengkombinasi pakaian serta jilbab yang
dikenakan, dan tentunya penyesuaian akhir dengan usianya. Beliau memilih warna
yang sederhana berupa busana berwarna beige sebagai tampilan keseluruhan,
disesuaikan dengan warna kulit dan usianya.
Dari tangkapan kamera harus diakui
bahwa wajah beliau yang (maaf) diatas rata-rata (kalau tidak boleh dikatakan masih
ada sisa-sisa kecantikan masa lalu), yang sedikit banyak ikut mendongkrak penilaian oleh
team juri. Terbukti dalam penilaian 5 orang juri yang terdiri dari 3 orang (on
the spot), dan 2 orang (jarak jauh, on line) semuanya sepakat memberikan nilai
tertinggi buat beliau. Mengapa dipilih juri jarak jauh (satunya Ibu Mia, dan
satu lagi Ibu Denita, dari Batam) memang saya maksudkan agar mereka bisa menilai
dari sisi photogenik, yaitu penilaian berdasar hasil tangkapan kamera
![]() |
| Gambar - 7 |
Membuktikan
bahwa beliau memang masih memiliki sisa-sisa kecantikan masa lalu, inilah foto
bersama putri-putri beliau (Tety dan Lia, yg juga kader lansia Kadipiro),
hampir tidak ada bedanya alias 11-12.
LOMBA TTS
Untuk ketiga-kalinya saya membuat TTS
untuk lomba dalam acara HUT Lansia Kadipiro, dan ternyata membuat TTS sulit itu jauh lebih mudah dibanding membuat
TTS mudah. Bagaimana bisa begitu? Membuat TTS mudah itu jauh lebih sulit
karena setiap kata harus dipertimbangkan
apakah cukup mudah bagi calon peserta lomba nanti. Inilah yang menyebabkan jadi
sulit karena apabila tautan silangan telah terbentuk dan ternyata ada satu kata yang dirasa terlalu
sulit maka harus mengganti dan membongkar kata-kata lain terkait.
Tidak heran
kalau untuk lomba kali ini saya perlu waktu seminggu untuk menyiapkan,
dibanding hanya butuh waktu 3 hari saat saya membuat TTS untuk diikut-sertakan
dalam lomba membuat TTS (dan alhamdulillah saya tercatat sebagai salah satu pemenang)
dengan tingkat kesulitan setara TTS Kompas Minggu, Koran Tempo, Media Indonesia
atau Suara Merdeka. Dalam pembuatannya saya hanya fokus bahwa soalnya harus
sesulit TTS koran-koran tersebut.
![]() |
| Gambar - 8 |
Kembali ke
TTS HUT Lansia, tak pelak akhirnya saya terpaksa memasukkan kata-kata yang termasuk sulit demi
menjaga tautan-silangan, seperti misalnya GRAMENG (Bunga pohon garut), DEKSURA
(Kurang ajar, tidak tahu sopan santun), ELTOR (Sejenis penyakit perut), DIANG
(Memanaskan diri dekat api).
Dari semua peserta akhirnya tidak ada satupun yang
menyelesaikan secara penuh dalam waktu 2 jam yang tersedia. Keluar sebagai
pemenang akhirnya Bp. Drs. SUKOTJO juara I, Ibu C. SUKAPTI juara II dan Bp.
ARIEF PRIYADI juara III. Dua diantaranya adalah mantan pendidik, dan seorang
lagi mantan PNS.
![]() |
| Gambar - 11 |
Makna filosofis
dari permainan dakon adalah adanya lubang yang disebut lumbung, yang bermakna
menyimpan segala sesuatu
setelah melalui usaha mengumpulkan
sedikit demi sedikit, disamping juga
makna gotong royong dan persaudaraan karena seorang pemain dakon juga
berkewajiban mengisi lubang-lubang milik lawan.
![]() |
| Gambar -12 |
Meskipun kebanyakan dimainkan anak-anak, khususnya
perempuan, permainan ini diselenggarakan
dengan tujuan agar mereka bisa mengenang kembali masa kanak-kanak betapa
serunya dulu bermain dakon. Seperti sudah diduga sebelumnya lomba hanya diikuti oleh eyang-eyang putri dan tak ada
satupun eyang kakung yang ikut serta. Tampil sebagai pemenang lomba ini adalah
Ibu CH. Tatik Tariyati (juara I), Ibu Ngatiyem (juara II) dan Ibu Sunarti
(juara III).
Prestasi tercepat ditunjukkan oleh Ibu CH. Tatik Tariyati yang
dalam waktu sekitar 10 menit sudah
mengakhiri permainan sekaligus pengumpul
biji terbanyak.
LOMBA MEMBUAT
LOTEK
Era kejayaan lotek sebagai makanan favorit di Kadipiro surut
seiring dengan surutnya Ibu Sosro dari aktivitas bisnis jualan lotek, karena
tenaganya sudah tidak memadai lagi seiring dengan lanjutnya usia.
![]() |
| Gambar - 13 |
Oleh karenanya
agar lotek sebagai makanan favorit tidak ikutan surut, untuk kedua kalinya acara HUT Lansia Kadipiro
diramaikan acara lomba membuat lotek. Sayangnya lomba ini hanya diikuti oleh
eyang-eyang putri saja tanpa diikuti oleh eyang-eyang kakung meskipun sebenarnya terbuka untuk siapa saja
tanpa mengenal gender.
![]() |
| Gambar - 14 |
Di mata dan di
lidah saya lotek tetap makanan yang perlu difavoritkan ditinjau dari berbagai
aspek, menyehatkan karena penuh dengan sayur mayur (kecuali mungkin kacang yang
perlu diwaspadai oleh penderita asam urat tinggi). Untung saja saya tidak
menjadi juri dalam lomba ini, karena seandainya saya menjadi juri mungkin hampir
semuanya mendapat nilai rendah karena bukan main pedasnya di lidah saya, meskipun
secara keseluruhan tetap enak.
![]() |
| Gambar - 15 |
Tampil sebagai pemenang Ibu Wihartati (juara I, Ibu CH.
Tatik Tariyati (juara II), dan Ibu Marsuci (juara III)
LOMBA
KESERASIAN BERSERAGAM
Apa yang sebenarnya mendorong lomba ini
diselenggarakan dalam Dasawarsa Lansia Kadipiro, saya ingin bahwa seorang
lanjut usia tidak seharusnya berpenampilan loyo, “nglomprot” (maaf ini saya
gunakan istilah lawa timuran yang agak sukar dicari padanan katanya dalam
bahasa Indonesia).
![]() |
| Gambar - 16 |
Saya ingin menunjukkan bahwa dari sisi penampilan
seorang yang walaupun usianya sudah berkepala 6
atau 7, tetap harus berpenampilan rapi (kalau tidak boleh dikatakan
tetap trendy) walaupun
tetap ada
batasan-batasan yang berlaku sesuai dengan umurnya (kan tetap tidak elok kalau
seorang lansia berpenampilan bak seorang rocker atau lady rocker). Jadi itulah
makna yang terkandung dalam lomba keserasian berpakaian (seragam), usia boleh
tua, tetapi penampilan tetap
harus rapi, trendy dan berjalan dengan tegak (tapi bukan bak seorang militer), dan wajah yang
riang. Untuk tampil seperti ini tidak harus dengan biaya mahal, karenanya
dipilih pakaian seragam sebagai pakaian atasan, dan untuk bawahannya
terserah kreasi masing-masing.
![]() |
| Gambar - 17 |
Tampil sebagai
pemenang lomba ini Bp. Arief Priyadi (juara I), Ibu Hj. Bunayah (juara II) dan Bp.
Supomo (juara III).
![]() |
| Gambar - 18 |
TUMPENGAN
![]() |
| Gambar - 19 |
![]() |
| Gambar - 20 |
Saya berpendapat bahwa beliau layak dimuliakan karena hadir dalam acara
HUT Lansia Kadipiro, sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu beliau,
dan sudah pada tempatnya bila saya memberi kehormatan kepada beliau untuk
memotong tumpeng.
Sebagai penerima potongan tumpeng saya pilih Ibu Marsuci yang
saya anggap paling berhak untuk menerima apresiasi yang tinggi sesuai
dengan kegigihan beliau dalam
mengikuti kegiatan Posyandu maupun acara lainnya. Dalam kondisi phisik yang
sudah tidak sepenuhnya mendukung, beliau masih menyempatkan diri hadir dalam semua kegiatan
yang tidak bersifat phisik. Untuk berjalanpun beliau memerlukan dua tongkat
pembantu, dengan jalan selangkah demi selangkah dan tertatih-tatih berangkat
dari rumah.
Tentu saja, pilihan dan apresiasi saya ini bukan tanpa
alasan, harapan saya beliau bisa menjadi teladan dan contoh bagi lansia yang
lain, bahwa keterbatasan gerak bukanlah halangan untuk tetap ikut
berpartisipasi pada setiap kegiatan yang diselenggarakan Paguyuban Lansia
Kadipiro.
Mengakhiri reportase rangkaian kegiatan Dasawarsa Lansia Kadipiro, saya mengajak
seluruh stake holder Paguyuban Lansia Kadipiro untuk bersama-sama mengucapkan Dirgahayu
Lansia Kadipiro. Tetap semangat!!!!!!!



















