Kamis, 16 Maret 2017

SABDA LUHUR SWARGA KAASTA


Gambar - 1
          Judul tulisan ini sepintas  gak nyambung dengan ilustrasi foto tumpeng dasawarsa. Ya memang, itulah sebuah budaya Jawa yang disebut Candra Sengkala atau Surya Sengkala. Memang tidak semua orang (khususnya Wong Jowo)  mengenal budaya ini, tapi itulah yang ingin saya angkat agar kita tetap mengenal budaya Jawa yang kata orang adiluhung. Lalu bagaimana cara melafalkan judul ini, ini yang benar sabdo luhur swargo kaasto dimana huruf “o” harus dibaca seperti melafalkan nama presiden kita Jokowi. Judul tulisan ini, menunjukkan bahwa Lansia Kadipiro lahir pada tahun 2007 menurut ilmu Surya Sengkala (Sabda = watak 7, Luhur=watak 0, Swarga=watak 0, dan Kaasta=watak 2), dan kalimat itu bermakna Titah dari Yang Maha Esa yang luhur akan membawa kita ke surga.

LOMBA CANGKRIMAN
             Begini, berapa banyak diantara kita sekarang ini yang katanya mengaku sebagai Orang Jawa, tapi sudah tidak peduli lagi terhadap ke-Jawaannya khususnya  dalam berbahasa Jawa. Bahasa Jawa semakin terpinggirkan oleh perkembangan jaman, karena penutur bahasa Jawa sudah semakin menipis. Coba mari kita perhatikan di lingkungan keluarga kita sendiri, masihkah anak-anak kita, cucu-cucu kita menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan posisi penutur terhadap orang yang diajak bicara, khususnya kepada yang lebih tua. Itu baru dari aspek bahasa tutur, lalu bagaimana dengan bahasa tulis? Lebih parah lagi ! Saat saya menyiapkan tulisan ini, ada WA message di HP saya, tertulis begini : “Sampon tak terusaken dateng pak Sekwilcam”. Saya mafhum memang apa yang dia maksud, tapi, seberapa banyak orang yang menulis secara salah untuk kata-kata dengan bunyi “u” (seperti bunyi kata “tahu”, bunyi huruf “e” seperti bunyi kata “mulih”). Sesak rasanya dada ini kalau membaca tulisan di SMS, WA atau lainnya secara serampangan dengan menulis : sampon, maleh, paklek, bulek, njeh, yang seharusnya ditulis : sampun, malih, paklik, bulik,njih ?
          Menyadari hal ini, saya terinspirasi untuk menyisipkan acara CANGKRIMAN dalam lomba memperingati satu dasa warsa Lansia Kadipiro tanggal 22 Pebruari 2017. Mengapa saya pilih Cangkriman, tentunya berkaitan dengan ke-sudah-lupaan kita dalam berbahasa Jawa dan ke-sudah-lupaan kita kepada tradisi serta kebiasaan masa kecil kita dulu, dimana anggota keluarga berkumpul di ruang tengah rumah diatas gelaran tikar pandan,  lalu orang tua kita atau simbah kita mengajak anak-anak dan cucu-cucu cangkriman. Suasana nostalgia semacam itulah yang ingin saya bangun dengan menyelenggarakan cabang lomba ini, walaupun belum sepenuhnya berhasil.

Gambar - 2
 
Gambar - 3
Tercatat 16 orang peserta (terbanyak diantara cabang lomba yang lain), dan mereka bertanding satu lawan satu melalui undian. Namun hasilnya agak kurang memuaskan karena dari 10 pertanyaan yang saling dilontarkan hanya dua orang yang berhasil mendapat 5 poin jawaban benar, lainnya hanya pada kisaran 1 atau 2 poin saja. Betapa mereka terkejut-kejut mendapatkan kata-kata seperti cekakik (ampas kopi sisa setelah diminum), dlongop (bunga pohon duren, janggleng (buah pohon jati), kombong (kandang ayam, bebek), singgat (anak lalat). Tetapi bagaimanapun juga saya cukup puas atas antusiasme mereka dalam mengikuti lomba cangkriman ini,  bahkan ada yang minta agar lebih sering lagi diselenggarakan acara serupa.Tampil sebagai pemenang lomba  ini Ibu C. Sukapti ( juara I, mantan guru), Ibu Umi Salamah (juara II, mantan guru bahasa jawa), Ibu CH Tatik Tariyati (juatra III, ibu rumah tangga).
Gambar - 4

LOMBA MEMAKAI JILBAB
          Siapa bilang bahwa lansia tidak perlu lagi mematut diri, justru  dalam usia senja ini lansia masih perlu untuk mematut diri untuk menunjukkan jati dirinya bahwa kami adalah lansia yang masih percaya diri,  yang sehat, sejahtera, mandiri, iman dan taqwa. Kita semua tentu tidak ingin melihat lansia yang berpenampilan loyo dan tubuhnya tidak terawat. Itu sebabnya lomba memakai jilbab diselenggarakan sebagai aktualisasi dari kebiasaan mematut diri. Peserta dituntut untuk bisa menunjukkan kemampuan bagaimana merias diri, dan menjaga keserasian berbusana.

Gambar - 5
Lomba dimenangkan oleh Ibu Hj. Bunayah sebagai juara I, Ibu Sunarti juara II dan Ibu Wihartati sebagai juara III.

Gambar - 6
 Khusus tentang pemenang I, dari foto-foto yang saya tampilkan  bisa disaksikan betapa beliau telah benar-benar menguasai bagaimana menyerasikan tampilan dan mengkombinasi pakaian serta jilbab yang dikenakan, dan tentunya penyesuaian akhir dengan usianya. Beliau memilih warna yang sederhana berupa busana berwarna beige sebagai tampilan keseluruhan, disesuaikan dengan warna kulit dan usianya.
Gambar - 7
Dari tangkapan kamera harus diakui bahwa wajah beliau
yang (maaf) diatas rata-rata (kalau tidak boleh dikatakan masih ada sisa-sisa kecantikan masa lalu), yang  sedikit banyak ikut mendongkrak penilaian oleh team juri. Terbukti dalam penilaian 5 orang juri yang terdiri dari 3 orang (on the spot), dan 2 orang (jarak jauh, on line) semuanya sepakat memberikan nilai tertinggi buat beliau. Mengapa dipilih juri jarak jauh (satunya Ibu Mia, dan satu lagi Ibu Denita, dari Batam) memang saya maksudkan agar mereka bisa menilai dari sisi photogenik, yaitu penilaian berdasar hasil tangkapan kamera
Membuktikan bahwa beliau memang masih memiliki sisa-sisa kecantikan masa lalu, inilah foto bersama putri-putri beliau (Tety dan Lia, yg juga kader lansia Kadipiro), hampir tidak ada bedanya alias 11-12.

LOMBA TTS
          Untuk ketiga-kalinya saya membuat TTS untuk lomba dalam acara HUT Lansia Kadipiro, dan ternyata membuat TTS  sulit itu jauh lebih mudah dibanding membuat TTS mudah. Bagaimana bisa begitu? Membuat TTS mudah itu jauh lebih sulit karena  setiap kata harus dipertimbangkan apakah cukup mudah bagi calon peserta lomba nanti. Inilah yang menyebabkan jadi sulit karena apabila tautan silangan telah terbentuk dan  ternyata ada satu kata yang dirasa terlalu sulit maka harus mengganti dan membongkar kata-kata lain terkait.
Gambar - 8
Tidak heran kalau untuk lomba kali ini saya perlu waktu seminggu untuk menyiapkan, dibanding hanya butuh waktu 3 hari saat saya membuat TTS untuk diikut-sertakan dalam lomba membuat TTS (dan alhamdulillah saya tercatat sebagai salah satu pemenang) dengan tingkat kesulitan setara TTS Kompas Minggu, Koran Tempo, Media Indonesia atau Suara Merdeka. Dalam pembuatannya saya hanya fokus bahwa soalnya harus sesulit TTS koran-koran tersebut.
Kembali ke TTS HUT Lansia, tak pelak  akhirnya saya terpaksa  memasukkan kata-kata yang termasuk sulit demi menjaga tautan-silangan, seperti misalnya GRAMENG (Bunga pohon garut), DEKSURA (Kurang ajar, tidak tahu sopan santun), ELTOR (Sejenis penyakit perut), DIANG (Memanaskan diri dekat api).
Gambar - 9

           Dari semua peserta akhirnya tidak ada satupun yang menyelesaikan secara penuh dalam waktu 2 jam yang tersedia. Keluar sebagai pemenang akhirnya Bp. Drs. SUKOTJO juara I, Ibu C. SUKAPTI juara II dan Bp. ARIEF PRIYADI juara III. Dua diantaranya adalah mantan pendidik, dan seorang lagi mantan PNS.


Gambar -10
LOMBA DAKON
   
Gambar - 11
      Permainan Dakon ternyata mempunyai berbagai nama, ada yang menyebut Congklak (Jawa), Magaleceng (Sulawesi), Mancala (Inggris), dan yang paling dahsyat Dentuman lamban (Lampung). Dalam sejarahnya dakon termasuk jenis permainan tertua, karena sudah ditemukan di Mesir sekitar 15 abad sebelum masehi, dan masuk ke Indonesia  diibawa oleh para pedagang bangsa Arab yang selain berdagang sekaligus juga pendakwah.

 Makna filosofis dari permainan dakon adalah adanya lubang yang disebut lumbung, yang bermakna menyimpan segala sesuatu setelah melalui usaha  mengumpulkan sedikit demi sedikit, disamping  juga makna gotong royong dan persaudaraan karena seorang pemain dakon juga berkewajiban mengisi lubang-lubang milik lawan.
Gambar -12

          Meskipun kebanyakan dimainkan anak-anak, khususnya perempuan,  permainan ini diselenggarakan dengan tujuan agar mereka bisa mengenang kembali masa kanak-kanak betapa serunya dulu bermain dakon. Seperti sudah diduga sebelumnya lomba  hanya diikuti oleh eyang-eyang putri dan tak ada satupun eyang kakung yang ikut serta. Tampil sebagai pemenang lomba ini adalah Ibu CH. Tatik Tariyati (juara I), Ibu Ngatiyem (juara II) dan Ibu Sunarti (juara III).
Prestasi tercepat  ditunjukkan oleh Ibu CH. Tatik Tariyati yang dalam waktu sekitar  10 menit sudah mengakhiri permainan sekaligus  pengumpul biji terbanyak.

LOMBA MEMBUAT LOTEK

          Era kejayaan lotek sebagai makanan favorit di Kadipiro surut seiring dengan surutnya Ibu Sosro dari aktivitas bisnis jualan lotek, karena tenaganya sudah tidak memadai lagi seiring dengan lanjutnya usia.

Gambar - 13
 Oleh karenanya agar lotek sebagai makanan favorit tidak ikutan surut,  untuk kedua kalinya acara HUT Lansia Kadipiro diramaikan acara lomba membuat lotek. Sayangnya lomba ini hanya diikuti oleh eyang-eyang putri saja tanpa diikuti oleh eyang-eyang kakung meskipun sebenarnya  terbuka untuk siapa saja tanpa mengenal gender. 

Gambar - 14
Di mata dan  di lidah saya lotek tetap makanan yang perlu difavoritkan ditinjau dari berbagai aspek, menyehatkan karena penuh dengan sayur mayur (kecuali mungkin kacang yang perlu diwaspadai oleh penderita asam urat tinggi). Untung saja saya tidak menjadi juri dalam lomba ini, karena seandainya saya menjadi juri mungkin hampir semuanya mendapat nilai rendah karena bukan main pedasnya di lidah saya, meskipun secara keseluruhan tetap enak.
Gambar - 15

Tampil sebagai pemenang Ibu Wihartati (juara I, Ibu CH. Tatik Tariyati (juara II), dan Ibu Marsuci (juara III)

LOMBA KESERASIAN BERSERAGAM
          Apa yang sebenarnya mendorong lomba ini diselenggarakan dalam Dasawarsa Lansia Kadipiro, saya ingin bahwa seorang lanjut usia tidak seharusnya berpenampilan loyo, “nglomprot” (maaf ini saya gunakan istilah lawa timuran yang agak sukar dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia).

Gambar - 16
          Saya ingin menunjukkan bahwa dari sisi penampilan seorang yang walaupun usianya sudah berkepala 6  atau 7, tetap harus berpenampilan rapi (kalau tidak boleh dikatakan tetap trendy) walaupun tetap ada batasan-batasan yang berlaku sesuai dengan umurnya (kan tetap tidak elok kalau seorang lansia berpenampilan bak seorang rocker atau lady rocker). Jadi itulah makna yang terkandung dalam lomba keserasian berpakaian (seragam), usia boleh tua, tetapi penampilan tetap harus rapi, trendy dan berjalan dengan tegak (tapi bukan bak seorang militer), dan wajah yang riang. Untuk tampil seperti ini tidak harus dengan biaya mahal, karenanya dipilih pakaian seragam sebagai pakaian atasan, dan untuk bawahannya terserah kreasi masing-masing.

Gambar - 17

 Tampil sebagai pemenang lomba ini Bp. Arief Priyadi (juara I), Ibu Hj. Bunayah (juara II) dan Bp. Supomo (juara III).

Gambar - 18





TUMPENGAN
Gambar - 19
          Ada satu hal yang agak menyimpang dari pakem, biasanya pada acara ulang tahun selalu yang berulang tahun yang memotong tumpeng, tetapi untuk kali ini pemotong tumpeng saya amanahkan  kepada Ibu Drg. Widowati Novia yang hadir selaku Kepala Puskesmas Mungkid didampingi Bu Mia dan Bu Lies.
Gambar - 20

 Saya berpendapat bahwa beliau layak dimuliakan karena hadir dalam acara HUT Lansia Kadipiro, sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu beliau, dan sudah pada tempatnya bila saya memberi kehormatan kepada beliau untuk memotong tumpeng.
Sebagai penerima potongan tumpeng saya pilih Ibu Marsuci yang saya anggap paling berhak untuk menerima apresiasi yang tinggi sesuai dengan kegigihan beliau dalam mengikuti kegiatan Posyandu maupun acara lainnya. Dalam kondisi phisik yang sudah tidak sepenuhnya mendukung, beliau masih menyempatkan diri hadir dalam semua kegiatan yang tidak bersifat phisik. Untuk berjalanpun beliau memerlukan dua tongkat pembantu, dengan jalan selangkah demi selangkah dan tertatih-tatih berangkat dari rumah.
Tentu saja, pilihan dan apresiasi saya ini bukan tanpa alasan, harapan saya beliau bisa menjadi teladan dan contoh bagi lansia yang lain, bahwa keterbatasan gerak bukanlah halangan untuk tetap ikut berpartisipasi pada setiap kegiatan yang diselenggarakan Paguyuban Lansia Kadipiro.

Mengakhiri reportase rangkaian kegiatan  Dasawarsa Lansia Kadipiro, saya mengajak seluruh stake holder Paguyuban Lansia Kadipiro untuk bersama-sama mengucapkan Dirgahayu Lansia Kadipiro. Tetap semangat!!!!!!!